Tanpa ada lagi sesuatu yang bisa kita rasa. Terlalu sulit untuk kubayangakan.
Bahkan untukku, tanpa memikirkan apa-apa terasa amat sulit. Untuk membayangkan dunia kematian yang dimana tidak ada lagi yang bisa kita fikirkan.
Hey, Akankah aku sedikit banyak berfikir tentang yang mungkin tidak banyak orang fikirkan?
Sebenarnya, aku hanya sedang memikirkan tentang orang-orang yang begitu berusaha bertahan hidup dengan segala kekurangan mereka.
Seperti orang-orang yang hidup dijalanan, yang bahkan lebih buruk dari pada tukang pungut sampah.
Pengemis, Argh. Kasihan sekali mereka. Seakan mereka tak punya apa-apa lagi, bahkan harga diri mereka sepertinya sudah lenyap.
Dengan beralas kardus bekas yang dia temukan di pembuangan sampah sebagai alas duduk, ditambah dengan pakaian yang menurutku lebih buruk dari pada kain lap yang kugunakan untuk mengkeset kakiku setelah dari kamar mandi.
Jika mereka bertahan hidup dengan mengemis hanya untuk sesuap nasi, kasihan sekali mereka. Rasanya aku ingin membuat mereka menghilang saja.
Lagi pula, jika mereka bertahan hidup hanya untuk makan saja, apakah mereka tidak merasa malu? mengemis untuk makan. Jangan bercanda, itu amat membuatku muak.
Kenapa kalian tidak mati saja? Bukankah itu akan melepaskan tanggung jawab kalian untuk mengisi perut? Haah, Benar atau salah perkataanku, aku tidak terlalu memikirkannya. Lagi pula disini aku hanya ingin tahu pendapat kalian.
Salah satu temanku pernah mengatakan ini kepadaku ketika aku menanyakan hal yang serupa “Karena mereka memiliki keyakinan penuh terhadap kehidupan mereka”
Aw Man, sesosok sok bijak Banaharaz Deezain kadang membuatku muak. Tapi aku menerima perkataanya dan masih mencari sedikit titik terang untuk hatiku.
Jika memang nyatanya begitu, apakah terlintas untuk sesama pengemis mengasihani sesamanya yang mati?
Tidak seperti orang-orang yang hidup sederhana dengan berjuang keras bertahan hidup dan bekerja tanpa mengemis. Kematian mereka kadang bisa membuat orang-orang sekitarnya bersedih. Bahkan jika mereka mati bunuh diri, Orang-orang akan mencari-cari alasan kenapa dia sampai bunuh diri. Orang lain yang bahkan tidak kenal sekalipun juga ikut terlibat.
Lalu, bagaimana jika seorang pengemis mati? adakah sesama pengemis lainnya saling bersimpati? yah setidaknya dengan memberikan tanah kosong untuk dikubur bisa kita anggap sebagai kepedulian, bahkan dengan membakar mayatnya menjadi abu pun masih bisa kita kategorikan sebagai “Kepedulian”.
Lalu, kira-kira apa yang kalian pikirkan tentang perkataanku ini?
Bahkan untukku, tanpa memikirkan apa-apa terasa amat sulit. Untuk membayangkan dunia kematian yang dimana tidak ada lagi yang bisa kita fikirkan.
Hey, Akankah aku sedikit banyak berfikir tentang yang mungkin tidak banyak orang fikirkan?
Sebenarnya, aku hanya sedang memikirkan tentang orang-orang yang begitu berusaha bertahan hidup dengan segala kekurangan mereka.
Seperti orang-orang yang hidup dijalanan, yang bahkan lebih buruk dari pada tukang pungut sampah.
Pengemis, Argh. Kasihan sekali mereka. Seakan mereka tak punya apa-apa lagi, bahkan harga diri mereka sepertinya sudah lenyap.
Dengan beralas kardus bekas yang dia temukan di pembuangan sampah sebagai alas duduk, ditambah dengan pakaian yang menurutku lebih buruk dari pada kain lap yang kugunakan untuk mengkeset kakiku setelah dari kamar mandi.
Jika mereka bertahan hidup dengan mengemis hanya untuk sesuap nasi, kasihan sekali mereka. Rasanya aku ingin membuat mereka menghilang saja.
Lagi pula, jika mereka bertahan hidup hanya untuk makan saja, apakah mereka tidak merasa malu? mengemis untuk makan. Jangan bercanda, itu amat membuatku muak.
Kenapa kalian tidak mati saja? Bukankah itu akan melepaskan tanggung jawab kalian untuk mengisi perut? Haah, Benar atau salah perkataanku, aku tidak terlalu memikirkannya. Lagi pula disini aku hanya ingin tahu pendapat kalian.
Salah satu temanku pernah mengatakan ini kepadaku ketika aku menanyakan hal yang serupa “Karena mereka memiliki keyakinan penuh terhadap kehidupan mereka”
Aw Man, sesosok sok bijak Banaharaz Deezain kadang membuatku muak. Tapi aku menerima perkataanya dan masih mencari sedikit titik terang untuk hatiku.
Jika memang nyatanya begitu, apakah terlintas untuk sesama pengemis mengasihani sesamanya yang mati?
Tidak seperti orang-orang yang hidup sederhana dengan berjuang keras bertahan hidup dan bekerja tanpa mengemis. Kematian mereka kadang bisa membuat orang-orang sekitarnya bersedih. Bahkan jika mereka mati bunuh diri, Orang-orang akan mencari-cari alasan kenapa dia sampai bunuh diri. Orang lain yang bahkan tidak kenal sekalipun juga ikut terlibat.
Lalu, bagaimana jika seorang pengemis mati? adakah sesama pengemis lainnya saling bersimpati? yah setidaknya dengan memberikan tanah kosong untuk dikubur bisa kita anggap sebagai kepedulian, bahkan dengan membakar mayatnya menjadi abu pun masih bisa kita kategorikan sebagai “Kepedulian”.
Lalu, kira-kira apa yang kalian pikirkan tentang perkataanku ini?
Komentar
Posting Komentar